Dari miliaran skenario yang mungkin terjadi di semesta, mengenalmu di layar kotak pada tahun 2020 adalah ketidaksengajaan favoritku.
Melihatmu tertawa bersama dia di kantin rasanya seperti badai di kemarau panjang. Patah? Jelas.
Tapi dari frustasi itu, angka 98 turun menjadi 59. Sebuah transformasi gila, karena aku terlalu benci menjadi pria yang hanya menatap dari kejauhan.
Sedikit nekat menerjang hujan ke Surabaya usai Jum'atan. Niatnya menjagamu agar tak terjatuh, lucunya... aku yang tergelincir pelan ke dalam pelukan hangatmu.
Hari itu, dua sendok makan terasa mengenyangkan jika lauknya adalah degup jantungku sendiri.
Bukan lagi tentang menunggu dalam diam atau sekadar menatap dari jauh.
Malam itu di Alun-Alun Jombang, di bawah langit malam Jumat, aku memastikan bahwa cerita panjang yang melelahkan ini... memiliki namamu sebagai tujuannya.
Terima kasih sudah bertahan,
Marcella Fredelia Agatha.
Menjadi kompas saat aku tak tahu arah, menjadi hangat di setiap
dinginnya realita kita. Biarkan dunia berputar, asal tanganku
tetap menggenggammu.
— Gilang Raja rizqi andana